Pertanian Konservasi


Pertanian konservasi (PK) bertujuan meningkatkan hasil pertanian dengan mengurangi biaya, menjaga kelestarian sumberdaya lahan dan air. Suatu upaya adaptasi perubahan iklim menuju pertanian lestari berkelanjutan dan memperbaiki mata pencaharian.

Pertanian Konservasi yang diimplementasikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak tahun 2014 ini adalah cara bertani yang sesuai dan tepat guna di lahan kering beriklim kering.

Dengan Pertanian Konservasi produktivitas pendekatan peningkatan produktivitas pertanian disertai upaya peningkatan kualitas sumberdaya lahan, air, tanaman, serta lingkungan biotik dan abiotik lainnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan menjaga kelestarian lingkungan.



Tiga Prinsip Pertanian Konservasi


  • Prinsip pertama - Pengolahan lahan terbatas

    Tanah tidak diolah untuk menghindari kerusakan struktur tanah, kehilangan organisme tanah, dan kehilangan tanah itu sendiri. Jika sangat diperlukan dilakukan pengolahan tanah secara terbatas misalnya dengan membuat lubang tanam atau rorak tanam permanen, lubang tanam semata cangkul, dan penggemburan tanah secara terbatas dengan membuat alur tanam (ripping).

  • Prinsip kedua – Penutupan permukaan tanah

    Permukaan tanah diupayakan selalu tertutup baik dengan tajuk tanaman utama, tajuk tanaman tumpang sari, tanaman penutup tanah, dan sisa tanaman sebagai mulsa. Sisa tanaman dibiarkan di lahan sebagai penutup tanah, mencegah erosi, menghambat pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan tanah.

  • Prinsip ketiga - Rotasi tanaman

    Diupayakan selalu dilakukan pergantian tanaman dengan jenis legume sebagai upaya memperbaiki kesuburan tanah dan manfaat lainnya.