Sekolah Lapang Pertanian Konservasi


Sekolah Lapang Pertanian Konservasi (SL-PK) adalah proses belajar bersama di alam terbuka dalam satu kelompok tani dengan anggota sekitar 20 – 25 orang.

Seluruh proses belajar-mengajar dilakukan di lahan pertanian. SL-PK tahap awal dimulai dengan menyepakati program pembelajaran pada skala demplot yang dikelola oleh seluruh anggota kelompok. Demplot PK milik kelompok tani yang telah disepakati menjadi sekolah inti kemudian lahan masing-masing anggota kelompok dijadikan program pengembangan selanjutnya. Proses belajar mengajar di sekolah inti dipandu oleh Pemandu Lapangan.

Kurikulum SL-PK dibagi menjadi dua, yaitu kurikulum musiman dan kurikulum jangka panjang. Kurikulum harus mencakup studi banding atau kunjungan silang baik antar anggota maupun antar SL-PK dari kelompok lain. Sebagai arsip, maka perlu dilakukan pendaftaran peserta yang mencakup nama dan luas lahan garapan masing-masing.



Beberapa dasar pelaksanaan SL-PK antara lain:

  1. SL-PK dilakukan untuk kelompok tani yang sudah terdaftar dan sudah dikukuhkan. Jika belum ada, kelompok tani perlu dibentuk bersama Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) melalui prosedur yang berlaku.
  2. Peserta dan petugas PPL yang kemudian menjadi Pemandu Lapangan saling memberikan informasi dan apresiasi sesama anggota.
  3. Perencanaan dan pengambilan keputusan dilakukan bersama seluruh anggota kelompok tani.
  4. Komponen teknologi yang akan diterapkan berdasarkan hasil telaahan sumber daya lahan, air, iklim, lingkungan agroekosistem, sosial dan budaya yang dilakukan oleh petani peserta SL dengan bimbingan Pemandu Lapangan.
  5. Metode yang diterapkan oleh Pemandu Lapangan dengan cara mendorong dan membimbing petani untuk belajar dengan penuh inisiatif di lahan kelompok maupun lahan masing-masing anggota.
  6. Materi pelatihan, praktek dilakukan secara langsung di lahan kelompok dan juga lahan masing-masing anggota dengan menggunakan sarana yang tersedia.
  7. Untuk kurikulum jangka panjang antara 3 s/d 5 tahun. Perlu dirancang dan disepakati juga perlu adanya rancangan per musim tanam. Pertemuan untuk setiap kurun waktu tertentu misalnya satu atau dua minggu sekali.