Lihat Semua

Pertanian Konservasi Jauh Lebih Baik

Pertanian Konservasi Jauh Lebih Baik

“Teknologi Pertanian Konservasi itu kami punya sudah. Saya bisa menghasilkan uang dari jagung dan lombok dan menjadi kurang khawatir tentang uang untuk membayar biaya kuliah anak-anak saya.

“ Sebagai ketua Kelompok Tani Lalera Kiik di Desa Renrua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, Mama Regina menjadi inspirasi bagi petani lainnya di desanya. Sejak tahun 2015, Mama Regina telah menerapkan teknologi Pertanian Konservasi (PK) untuk meningkatkan produksi jagung, memperbaiki tanah dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Pada tahap awal pelaksanaan PK, di bawah bimbingan mitra pelaksana FAO, Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM), Mama Regina memimpin kelompok tani-nya untuk membuat demplot PK sebagai wahana pembelajaran di mana mereka menerapkan tiga prinsip utama PK: olah tanah minimum, penutupan permukaan tanah permanen dan rotasi tanaman.

Untuk menyiapkan lahan dengan prinsip pengolahan tanah minimum, Mama Regina dan rekan-rekannya membuat lubang tanam permanen dan memasukkan kompos ke dalamnya untuk meningkatkan kandungan organik tanah. Mereka kemudian menanam benih jagung komposit, menutupi tanah dengan mulsa dan menamam kacang-kacangan sebagai tanaman sebagai tanaman sela di antara baris tanam. Mereka belajar bahwa penyisipan kompos memungkinkan jagung tumbuh jauh lebih subur sehingga hasil panen menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan jagung yang ditanam dengan teknik konvensional. Dengan penerapan mulsa mereka belajar bahwa gulma tidak tumbuh dan jagung memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap musim kemarau yang berkepanjangan karena mulsa membuat tanah tetap lembab dan mencegah penguapan air.

PK jauh lebih baik. Pertumbuhan jagung dan hasil jagung lebih baik. Saya akan terus mempromosikan dan mendorong petani di kelompok saya dan di desa untuk mengadopsi teknik PK

Ketika Mama Regina mengadopsi teknik CA di ladangnya sendiri seluas 7000 meter persegi, dia membawa adopsi ke tingkat yang lebih tinggi melalui eksperimen dengan teknik PK. Setelah mengalami bahwa kompos punya andil besar untuk meningkatkan hasil jagung, dia menggandakan jumlah kompos di lubang tanam saat dia menerapkan teknik CA di lahannya sendiri. Dan ternyata hasilnya mengejutkan, lebih dari 1 ton. “PK jauh lebih baik. Pertumbuhan jagung dan hasil jagung lebih baik. Saya akan terus mempromosikan dan mendorong petani di kelompok saya dan di desa untuk mengadopsi teknik PK”, Mama Regina berkata dengan antusias.

Meski demikian, Mama Regina belum puas. Dia mengambil adopsi bahkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi dengan menerapkan teknik-teknik ini pada tanaman lombok akrena nilai ekonomisnya yang tinggi. Pada bulan November 2016, atas prakarsanya sendiri, Mama Regina menggali 1200 lubang tanam, memasukkan kompos dan menanaminya dengan lombok. Ternyata hasil panennya melecut semangat Mama Regina, “Saya panen lombok sebanyak 40 kg dari kebun saya dan saya mendapat Rp 1.500.000 dan seminggu setelah itu kami melakukan panen kedua dan saya mendapatkan jumlah uang yang sama.”

Sebagai ibu tunggal dengan dua anak di perguruan tinggi, Mama Regina sangat berterima kasih kepada PK, “Teknologi PK itu kami punya sudah. Saya bisa menghasilkan uang dari jagung dan lombok dan menjadi kurang khawatir tentang uang untuk membayar biaya kuliah anak-anak saya. “ Mama Regina adalah satu dari lebih dari 13.000 pengadopsi PK di provinsi NTT dan NTB dimana PK telah diimplementasikan sejak tahun 2014 diinisiasi oleh FAO dengan dukungan USAID dan Kementan.

Nama : Mama Regina
Desa : Renrua
Provinsi : East Nusa Tenggara