Lihat Semua

Apapun komoditinya Pertanian Konservasi solusinya

Apapun komoditinya Pertanian Konservasi solusinya

Pak Syukur (43 thn), adalah pengurus kelompok Kelekuh Jaya, Desa Mertak Kecamatan Pujut Lombok Tengah dan Tenaga Harian Lepas-Bantu Lapangan (THL-BL) yaitu sejenis penyuluh pertanian di wilayah Desa Mertak Kec. Pujut Kab.Lombok Tengah NTB.

Perkenalannya dengan PK pertama kali ketika diundang menjadi peserta pelatihan Pertanian Konservasi (PK) difasilitasi Mr. John Weatherson di BPTP NTB tahun 2015. Pengetahun teknis PK yang dipelajarinya saat pelatihan membuatnya semakin ingin belajar lebuh jauh bagaimana PK diterapkan dilahan kering seperti Desa Mertak.

Prinsip itupun dia gunakan saat mengelola lahan PK miliknya. Pada musim pertama, hasil yang diperoleh sangat sedikit karena cuaca ekstrim kemarau panjang yaitu lubang tanam 95 kg, alur tanam 70 kg dan control 35 kg. Meski demikian, hasil panen di lahan PK dianggapnya luar biasa dibandingkan dengan hasil di control. Pertumbuhann jagung dilahan PK jauh lebih baik dibandingkan non-PK meskipun hujan sangat terbatas.

Pada Musim Tanam (MT) 2015/2016, Pak Syukur menerapkan PK di lahan miliknya seluas 0.15 ha, disiapkan dengan pendekatan alur tanam 0.05 ha, lubang tanam 0.05 ha dan control 0.05 ha. Setiap lubang tanam diberikan pupuk kandang 5 kg dan alur tanam 2 kg per meter.

Lahan PK terutama plot lubang tanam dia gali sendiri kadang-kadang dilakukannya pada malam hari saat bulan purnama. “Sebaiknya teknologi itu kita buktikan sendiri terlebih dahulu dan setelah ada indikasi berhasil disebarkan ke orang lain. Hanya itu cara agar anggota kelompok bisa percaya”.

Pengalaman belajar PK ditahun pertama memperkuat optimisme Pak Syukur bahwa pendekatan PK sangat baik untuk diterapkan didaerah-daerah kering dengan hujan terbatas.

Penerapan PK berlanjut MT 2016/2017. Jagung yang diatanam adalah jagung komposit bantuan FAO. Pertumbuhan tanaman jagung di lahan PK (lubang tanam dan alur tanam) tumbuh sangat baik, daunnya lebih hijau, batang lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dilahan non-PK; tanaman jagung terlihat agak kurus, rumput/gulma tumbuh cukup padat dan lebih pendek. Pak Syukur meyakini bahwa pendekatan PK, yaitu penutupan permukaan tanah) yang sempurna mampu mengendalikan pertumbuhan gulma dan mengurangi biaya tenaga kerja penyiangan. Selain itu, pemanfaatan pupuk kompos mengurangi penggunaan pupuk secara bertahap.

Hasil panen jagung pada MT 2015/2016 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 155 kg dilubang tanam, 125 kg di kontrol dan 85 kg di lahan control. Pendekatan PK juga memberikan pendapatan tambahan dari kacang-kacangan.

Selain komoditi jagung, Pak syukur mencoba menerapkan pendekatan PK untuk komoditi hortikultura, seperti cabe, tomat dan semangka.

Sisa tanaman dimanfaatkan untuk menutup permukaan tanah. Dengan pengairan seadanya, tanaman hortikultura selain jagung seperti cabe, tomat dan semangka berhasil penen. Pengalaman belajar PK selama dua musim tanam semakin memperkuat keyakinannya bahwa pendekatan PK mampu memperbaiki produksi dan meningkatkan pendapatan petani. Ia mengatakan “Apapun komoditinya, PK solusinya”.

Pengalaman menerapkan PK dilahannya dijadikan bahan belajar ke beberapa kelompok di wilayah binaannya. Saat ini, ada 3 kelompok tani yang telah didampingi/difasilitasi mengembangkan demplot belajar PK, yaitu Kelompok Pade Genem, Pade Angen, dan Karya Mulia Desa Mertak Kecamatan Pujut Lombok Tengah.

“Tugas dan fungsi seoarang penyuluh adalah menyebarkan inovasi/inovasi teknologi di masyarakat. PK adalah teknologi yang tidak merusak lingkungan. Sebaliknya, PK sangat bermanfaat untuk meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah. Kalau tanah sudah subur tentu hasil produksi akan meningkat”, demikian Pak Syukur.

Nama : Syukur
Desa : Mertak, Kecamatan Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah,
Provinsi : Nusa Tenggara Barat