Lihat Semua

Ternyata rejeki ada di depan pintu rumah saya

Ternyata rejeki ada di depan pintu rumah saya

Pak Amaq, seorang petani dan mantan buruh migran dari Desa Sekaroh, Lombok Timur tampak serius namun puas. Kulitnya yang terbakar matahari dan bahunya yang kokoh menjadi kisah hening kerja keras dan ketekunan seorang desa yang telah menjadi petani sepanjang hidupnya. Kecuali ketika dia meninggalkan ladang dan keluarganya untuk menjadi buruh migran di Malaysia.

Sebelum merantau ke Malaysia, Pak Amaq biasanya bertani pada lahan seluas setengah hektar yang ia warisi dari ayahnya. Sebagai seorang petani konvensional lahan kering, Pak Amaq menanam jagung sekali setahun. Kalau hujan memadai, hasilnya baik. Tetapi apabila hujan menjadi tidak menentu, hasilnya kurang. Apalagi dengan lebih dari tujuh bulan kering di Lombok, rata rata hasil panennya adalah 3-4 ton per ha, hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Situasinya menjadi sulit dan lantaran keinginan untuk memperbaiki taraf penghidupannya, Pak Amaq mengambil keputusan berani namum beresiko untuk pergi ke Malaysia.

Di Malaysia, Pak Amaq hanya jadi buruh bangunan. “Menjadi buruh migran dan jauh dari keluarga adalah sebentuk pengucilan. Saya sama sekali tidak menikmatinya”, kata Pak Amaq. Inilah alasan mengapa ia kembali ke kampung halamannya dan bertani lagi dengan semangat baru.

Kini, ia berdiri dengan kepala tegak di hadapan hamparan tanaman lombok yang siap panen yang ditanam di sela-sela baris tanaman jagung yang telah dipanen sebelumnya - suatu metodologi untuk meminimalisir erosi dan meningkatkan kesuburan tanah.

“Uang ada persis di depan pintu rumah saya,” kata Pa Amaq dengan bangga, sebuah senyum tipis merekah perlahan di bibirnya ketika ia memetik sebuah lombok. Istri dan putri bungsunya di sampingnya. "Awalnya saya ragu dengan pendekatan PK soalnya tanah tidak dibajak dan kebun jadi kotor dengan sisa tanaman.” Tetapi ketika dia melihat bahwa jagung di ladangnya tetap tumbuh walaupun hujan yang terlambat, Pak Amaq mulai yakin dengan pendekatan barunya.

Terdorong untuk menjadi petani yang sukses, Pak Amaq meminjam uang dari bank, menggunakan ladangnya sebagai jaminan. Dia masih menggunakan pendekatan konvensional dalam bertani tetapi ketika Pak Amaq mengenal Pertanian Konservasi (PK) pada tahun 2014, dia ingin mencoba pendekatan baru ini. Pada musim tanam 2015-2016, Pak Amaq mulai menerapkan teknik PK. Ini berarti tanah tidak dibajak, sisa tanaman digunakan sebagai mulsa dan Pak Amaq menggunakan pupuk organik untuk menyuplai gizi bagi tanah.

Ternyata musim panas menjadi lebih panjang dan ancaman gagal panen menjadi begitu nyata. Tetapi Pak Amaq jadi heran dan hampir tidak percaya. Walaupun tanaman jagung di ladang-ladang di sekitarnya mengalami gagal tumbuh, jagung di ladangnya tetap tumbuh subur dan berhasil dipanen dengan rata-rata 6.1 ton per hektar. “Hasil ini sungguh luar biasa. Sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya. Dengan uang ini, saya bisa membayar pinjaman dari bank (5 juta rupiah) dan menyisihkan tabungan untuk pendidikan anak-anak saya. Saya juga beli kambing. Sekarang saya punya 12 kambing”, katanya dengan bangga.

Selain jagung, Pak Amaq juga menanam lombok sebagai tanaman sela. Halaman di depan rumahnya pun disulap menjadi kebun lombok dengan pendekatan PK. Hasilnya Pak Amaq mendapatkan penghasilan tambahan 300 - 400 ribu rupiah per minggu. Hasil ini mendorong Pak Amaq untuk tetap mengadopsi PK pada musim berikutnya. Lahan diperluas menjadi 1 hektar dan ditanami dengan benih jagung hibrida. Rata rata hasil panen adalah 7.6 ton/ha dan lebih dari 20 juta pendapatan dari menjual hasil panen jagung.

Pak Amaq adalah anggota Kelompok Tani (Poktan) Moga Sukses di Desa Sekaroh, Lombok Timur, NTB. Poktan ini memiliki 35 anggota dan mulai mempraktekkan PK sejak tahun 2014. Pak Amaq dan rekan-rekan petaninya termasuk petani-petani yang untuk pertama kalinya menerapkan PK di Propinsi NTB.

Pemerintah Indonesia berencana untuk mengadopsi pendekatan PK sebagai bagian dari intervensi cerdas tanggap-iklim dan mengintegrasikannya ke dalam upaya khusus peningkatan hasil jagung sebagai program nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Nama : Amaq Genap
Desa : Jerowaru, East Lombok
Provinsi : Nusa Tenggara Barat