Lihat Semua

Suatu saat kami bisa hidup mewah dari hasil pertanian

Suatu saat kami bisa hidup mewah dari hasil pertanian

KUPANG, KOMPAS.com - Udara pagi itu cukup panas meski waktu baru menunjukkan pukul 8.30 Wita. Cuaca panas tak menyurutkan semangat puluhan remaja berseragam putih biru menggali lubang di lahan tidur seluas 750 are. Lubang sedalam 7 sentimeter itu kemudian ditutup dengan pupuk organik. Sambil tertawa dan bersenda gurau, siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri I, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), seolah sudah tahu tugas pokoknya masing-masing. Murid perempuan dan laki-laki berbaur. Ada yang memegang besi penggali dan ada pula yang bertugas menyebar benih kacang-kacangan yang ditampung di dalam kantong keresek kecil, ember dan karung putih berukuran 25 kilogram. Tak terasa memang, dalam tempo kurang dari satu jam, puluhan lubang sudah terisi dengan benih kacang dan jagung. Para siswa ini sedang mempraktikkan program bertani jenis baru, yakni metode pertanian konservasi (conservation agriculture). Penerapan metode baru ini adalah hasil pembinaan dan pelatihan yang diberikan langsung oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Food and Agriculture (FAO) Indonesia wilayah NTT. Tidak terlalu sulit bagi anak-anak ini untuk mengaplikasikan metode pertanian jenis konservasi. Sebab, selain sudah terbiasa, mereka juga punya kemauan yang kuat untuk menjadi petani yang sukses kelak bila sudah lulus nanti. Meski lokasi lahan garapan sekolah berada persis di jalur jalan raya utama Kota Soe (ibu kota Kabupaten TTS), namun mereka tidak malu, apalagi minder untuk terus bekerja mengolah lahan itu. Bagi mereka, bertani bukan pekerjaan yang hina, melainkan sangat mulia karena bisa memberi makan banyak orang. “Saya berminat masuk sekolah pertanian ini karena orangtua saya memang petani, tapi masih menggunakan pertanian tradisional. Karena itu, saya mau datang belajar di sini karena saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa pertanian itu bukan saja menjanjikan tetapi juga tulang punggung negara dan dunia. Karena tanpa pertanian tentu kita tidak bisa makan,” kata Gisel Natonis (17), pelajar kelas III SMK Negeri I jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura kepada Kompas.com, Selasa (11/10/2016).   Bangga jadi petani Menurut Gisel, banyak orang, terutama anak muda seusianya yang menganggap pertanian itu adalah pekerjaan yang kotor dan hina. Namun baginya, dari pekerjaan yang kotor itu, seorang petani menghasilkan lebih banyak uang daripada para pegawai negeri sipil di daerahnya. “Saya tidak malu jadi petani. Banyak yang mengolok kami bahwa anak pertanian itu kotor tapi kami bilang bahwa kita bisa hidup tanpa mesin, tapi kita tidak bisa hidup tanpa pertanian. Karena itu, kami tidak pusing mau mandi lumpur atau apapun itu namanya. Intinya bahwa kami tetap cinta dunia pertanian. Kami ini menunjukkan kepada teman-teman bahwa suatu saat kami bisa hidup mewah dari hasil pertanian kami ini,” kata Gisel optimistis. Gisel pun mengaku sangat terbantu dan memeroleh ilmu baru dari metode pertanian konservasi. Menurutnya, metode ini kelak bisa membantu dirinya bertani dengan cara yang baik dan benar. Hal senada juga disampaikan dua siswa lainnya, Yanto Misa (17) dan Anggi Neonane (15). Keduanya mengaku, dari hasil pertanian itu bisa mencukupi kebutuhan makan dan biaya sekolah mereka. Menurut Yanto, menjadi petani itu prospeknya sangat menjanjikan, sehingga kalau bekerja dengan tekun dan keras tentu akan menghasilkan banyak uang. “Saya tidak malu menjadi petani karena saya berpikir dan berpatokan pada firman Tuhan bahwa petani itu menciptakan sesuatu, sehingga saya tidak malu. Dengan bertani kita bisa kasih makan banyak orang dan banyak orang sukses karena jadi petani,” ucapnya.   Yanto mengaku, di pekarangan rumahnya ia menanam sejumlah sayuran, yakni sayur kumbang, kol, brokoli dan sayur putih pada lima bedeng berukuran kecil. Dari hasil bertani sayur itu, Yanto mampu meraup keuntungan hingga jutaan rupiah untuk sekali panen. Uang yang ia peroleh itu digunakan untuk membayar uang sekolah, alat tulis, perlengkapan sekolah hingga telepon genggam. “Saya akan memberi informasi kepada teman-teman agar masuk ke sekolah pertanian, karena dengan sekolah pertanian kita dapat memajukan daerah kita ini, seperti apa yang pernah disampaikan oleh mendiang Gubernur NTT El Tari yang mengatakan tanam dan sekali lagi tanam,” ujarnya. Sementara itu, Anggi Neonane, mengaku bahwa dari hasil pertanian yang saat ini digeluti oleh ayahnya, bisa mampu menyekolahkan ia dan adik-adiknya. Bahkan, seorang kakaknya saat ini sedang kuliah di sekolah tinggi pertanian di Kota Kupang. Bukan hanya itu saja, bahkan dari hasil panen padi di lahan sawah seluas dua hektar itu, ayahnya mampu membangun rumah permanen yang besar dan membeli sepeda motor. Metode konservasi Ditemui di tempat yang sama, salah seorang guru SMK Negeri I TTS, Eka Jaya Ningsih mengatakan, dengan penggunaan metode pertanian konservasi sangat jauh lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan pengunaan pupuk kimia. Hasilnya pun, kata Eka, sangat berbeda. “Kita ambil contoh tanaman jagung atau kacang, jika kita pakai pupuk kimia, maka ukuran batangnya kecil, kalau dibandingkan dengan metode pertanian konservasi. Selain itu, penggunaan pupuk kimia, maka tanah akan lebih keras dan cenderung akan rusak,” terangnya. Eka menjelakan, saat ini pertanian konservasi juga telah diterapkan kepada sejumlah petani di beberapa tempat di Kabupaten TTS. Ia pun berharap, hasil yang dicapai petani bisa maksimal.   Sementara itu, Project Manager FAO Pertanian Konservasi NTT-NTB, Ujang Suparman mengatakan, pertanian konservasi dalam jangka panjang dapat mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah, baik fisik maupun kimia. Selain itu, kata Ujang, pertanian konservasi juga dapat mencegah erosi, meningkatkan daya simpan air dan mempertahankan kelembaban tanah. Sehingga dapat meningkatkan hasil dan sekaligus meningkatkan daya adaptasi terhadap perubahan iklim terutama curah hujan yang tidak menentu. Penerapan pertanian konservasi ini dengan menggunakan tiga pilar utama, yakni pengolahan tanah seringan-ringannya hingga tanpa olah sama sekali, penutupan permukaan tanah secara terus menerus sepanjang musim sepanjang tahun dan rotasi atau tumpang sari tanaman non-legume dengan legume. “Dengan pendekatan ini diharapkan pertanian konservasi yang di awalnya dianggap berat, selanjutnya akan lebih mudah mengerjakannnya dengan hasil yang lebih baik lagi. Kita hanya memberikan pemikiran-pemikiran kepada para petani dan anak- anak siswa calon petani untuk mengajak dan mengubah pola berpikir, dan ke depan kita juga akan mendukung dari sisi teknik dan alat pertanian,” kata Ujang. Menurut Ujang, pemberian metode baru untuk siswa ini agar ke depan mereka menjadi petani yang baik. Bisnis di bidang pertanian pun lebih menguntungkan dan berkesinambungan. “Kita ingin menghentikan kegiatan-kegiatan pertanian yang sifatnya ekstraktif dengan hanya memanen terus tanpa memperhatikan daya dukung tanah. Dengan konservasi ini kita ingin menyeimbangkan, yakni apa yang dipanen dan apa yang akan dikembalikan untuk lahan yang dipanen itu,” jelasnya.   Ujang mengatakan, pendekatan secara konservasi bukan hanya mengonservasi lahan, tetapi juga meningkatkan hasil. Ujang berharap, dengan cara ini hasil pertanian akan meningkat, indeks pertanaman menjadi bertambah, yang sebelumnya satu kali menjadi dua kali panen, sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan, dan kondisi lahan tidak terdegradasi. “Kita mengelola lahan kering dan kita harus menunjukan kepada nasional bahkan internasional, bahwa kita di NTT pandai mengelola lahan kering. Buktinya sampai saat ini warga NTT masih hidup dan bertahan,” tuturnya.


Media :
Date Published :
Source :